GURURANTAU
GURURANTAU

KREASI MEMBUAT TOPENG DARI KERTAS KORAN BEKAS

Kegiatan pembelajaran di SD Cibatear kelas 5

GURURANTAU

AKSI SDN 2 CIKUYA

Opik, M.Pd (Pembina Aksi/Guru SDN 2 Cikuya)

GURURANTAU

Teknik Untuk Memicu Siswa Sekolah Dasar Kelas V Gemar Membaca Buku Pelajaran

Haturan Wilujeng Sumping Ka Sadayana di Situs Guru Rantau Pustaka Culamega

GURURANTAU

PUISI: MELINTASI TASIK SELATAN

Karya: Opik, M.Pd.

Kamis, 06 Oktober 2016




Kamis, 11 Desember 2014

KEGIATAN DI SAUNG TBM PUSTAKA CULAMEGA

Babalagonjangan jeung barudak tiap ba'da Isya bari saeutik-saeutik nepakeun pangaweruh nu kira-kira pimanfaateun keur maranehna. kukitu saeutik gering hate kusabab jauh ti kulawarga bisa kaubaran. Ngan ku sumanget, kaikhlasan jeung elmu nu saeutik ieu kuring bisa ngagunakeun sesa hirup, susuganan jadi jelema nu manfaat mungguhing Pangeran



Kamis, 27 Februari 2014

TEMAN SEJATI

Pada Hari Minggu, sekitar pukul 07.00, sejumlah anak-anak kelas VI SD N Curugtelu,  yaitu Alek, Irwan, Atep, dan Kikin bermusyawarah kecil untuk kegiatan memancing ke sungai Cipalu. Dalam musyawarah tersebut mereka membagi-bagi alat yang harus dibawa, dan tugas ketika sudah berada di Sungai. “Teman-teman apa yang harus kita persiapkan sebelum memancing?” tanya kikin. Atep menjawab, “Bagaimana kalau yang membawa alat pancing tiga orang, dan yang bertugas memasak satu orang.” Alek menyanggah, “Aaah! kalau yang memasak satu orang tidak adil, bagaimana kalau dua orang, aku dan irwan?” “Setuju!” kata Irwan. Baiklah kalau begitu, apakah setuju semuanya?” Tanya Kikin. “Setujuuu!” semuanya menjawab. Lalu mereka bersiap- siap untuk segera berangkat ke sungai.
Sekitar jam 07.30 mereka berangkat menuju sungai Cipalu, dengan membawa alat-alat yang sudah dipesiapkan. Kikin dan Atep membawa alat pancing sedangkan Alek dan Irwan membawa alat-alat untuk memasak nasi liwet dan makanan lainnya. Mereka sangat pandai dalam membagi-bagikan tugas, sehingga tidak ada seorangpun yang cemburu atas tugas masing-masing.
Selama diperjalanan, mereka bercakap-cakap. “Teman-teman, kira-kira ikanya banyak tidak ya?” tanya Kikin. Atep menjawab,”bagaimana nanti saja, kita tidak bisa memastikan sekarang, Hanya Allah SWT yang Maha Tahu atas apa yang akan terjadi pada diri kita.” Ketika itu Irwan ikut nimrung, “ Benar apa yang dikatakan Atep, manusia hanya punya rencana, yang menentukan berhasil tidaknya hanya Allah,”
Sesampainya di sungai,  Kikin dan Atep mencari lokasi yang strategis untuk memancing, sementara irwan dan alek mencari lokasi untuk memasak dan memasang alat-alat pancing, menyimpan bahan makanan, memposisikan dan membuat tungku untuk memasak nasi liwet. Ketika itu kikin dan Atep menemukan tempat yang bagus untuk memancing, yaitu di bawah air terjun Cipalu yang kedua. “ Tep, saya di sini dan kamu sebelah sana ya!” Kata Kikin sambil menunjukkan tempat untuk Atep memancing. Atep segera menghampiri tempat itu, memang tempatnya cukup strategis dengan adanya pohon albasiah besar sehingga keadaannya teduh. Setelah tempat memancing telah ditentukan, mereka kembali lagi ke tempat irwan dan Alek berada. Ketika itu Alek bertanya, “Kin, apakah tempat mancingnya sudah ditemukan? Kikin menjawab, “Sudah, bahkan sangat strategis sekali, bagaimana kailnya sudah dipasang? Kikin balik bertanya. “Sudah! bahkan tungku dan alat-alat yang lainnya sudah siap,” Jawab Alek. “Bagus kalau begitu! kalian berdua tunggu di sini ya, sedangkan aku dan Atep akan memancing. Setelah mereka bincang-bincang sejenak, Atep dan Kikin berangkat dengan membawa alat-alat pancing terus menuju tempat yang tadi.
Sesampainya di tempat pemancingan, yaitu air terjun Curugtelu yang kedua, mereka memposisikan diri di tempat masing-masing. Atep berada di dekat batu besar dan Kikin memilih tempat di bawah pohon Albasiah yang ukurannya besar. Keadaan tempat mereka duduk dengan air sungai sangatlah curam, sehingga kalau terjatuh akan sangat berbahaya. Disamping curam, juga air tejun kedua sungai curugtelu sangatlah dalam.
Setelah umpan dipasang, Atep dan Kikin membanting joran ke tengah sungai sehingga pancingnya tercebur ke air dan jorannya dimasukkan di sela batu. Selang beberapa menit, joran Atep bergetar yang menandakan adanya ikan yang memakan umpan. Kemudian atep menarik pancing tersebut dengan segera. “wah, aku dapat ikan besar ni!” Teriak Atep. Saat itu Kikin melirik ke arah atep berada,” Tep, cepat angkat! Teriak Kikin. Saat itu Atep mengangkat jorannya, dan ternyata ikan yang didapat Atep adalah ikan mas yang ukurannya cukup besar. Setelah ikan berada di darat, Atep membuka mata kail dari mulut ikan kemudian memasukkannya ke dalam korang. “kin, kamu dapat belum?” Tanya Atep. Kikin menjawab, “Belum, mungkin umpan pancingku sudah habis,” seru Kikin sambil melirik kepada Atep. Tetapi saat itu joran Kikin bergetar hebat, dan joran tersebut terlepas dari himpitan batu, kejadian itu terlihat oleh Atep. “Kin, itu joranmu terlepas! Teriak atep. Saat itu Kikin terperanjat dan langsung menyambar ujung joran. Sayang joran tersebut hanya ujungnya yang didapat dan Kikin meraihnya sambil jongkok. Ketika itu keadaan batu sangat licin, dan Kikin terpeleset. Sehingga saat itu pula Kikin terjatuh, dan melayang tercebur ke sungai. Kikin berteriak minta tolong, “Tep, tolooong! Atep terperanjat dan segera menghampiri tempat Kikin memancing.
Ketika itu Atep bingung, apa yang harus dilakukan. Selang beberapa detik atep segera mengambil tindakan. Dia berteriak sekeras-kerasnya, “Lek…,Wan…Cepat kesini!” karena tempat memancing Atep dan Kikin tidak begitu jauh, sehingga teriakan Atep terdengar oleh Alek dan Irwan. Mendengar teriakan Atep, mereka segera ke sana dengan terburu-buru. Sesampainya ke tempat memancing Alek bertanya, “Ada apa Tep, teriak-teriak? Atep segera menjawab, “I..i.tu Si Kikin jatuh ke sungai,” sambil menunjukkan ke arah tempat Kikin terjatuh. Ketika itu Alek dan Irwan melirik kearah yang ditunjukan Atep. “Bagaimana sekarang?” Tanya Irwan. “Bagaimana kalau kita semuanya turun untuk menolong Kikin? Mereka semua menjawab, “ Iya, kita tolong sama-sama. Kemudian mereka bertiga segera turun ke sungai melalui jalan yang curam. Setelah mereka sampai ke ke bawah dekat sungai, keempat orang anak itu langsung lompat ke arah Kikin tenggelam. Mereka panggil Kikin, “Kin..Kin.! Lek, ayo kita berenang untuk menemukan Kikin,” ajak Atep. Hampir lima menit Kikin belum diketemukan, mereka terus mencari dan mencari. Menginjak menit ke enam Atep berteriak, “Lek..Wan..Kikin ada di sini. Ketika itu, keadaan kikin terkulai lemas. Kemudian mereka membopong dengan susah payah menuju ke darat pinggir sungai. Sesampainya di darat mereka meletakkan Kikin di tempat yang aman. Kemudian Atep menghampiri Kikin,”teman-teman siapa yang bisa melakukan pertolongan pertama untuk Kikin?” Tanya  Atep.  Alek segera menjawab, “Biar aku saja!” lalu alek memberikan nafas buatan, dengan menyedot air dari mulut Kikin. Tidak lama kemudian Kikin bergerak perlahan, dan akhirnya Kikin muntah air yang cukup banyak. Ketika itu Irwan tidak tinggal diam, dia memijit punggung Kikin.
Selang beberapa detik  kikin siuman dengan keadaan belum normal, diakibatkan masih trauma dengan kejadian tadi. Alek bertanya kepada Kikin,”Kin, bagaimana awal kejadian yang sebenarnya?” Kikin menjawab dengan suara yang lemas, “A..aaku meraih joran dengan terburu-buru dan aku terpeleset sehingga aku langsung jatuh  ke sungai. “Ketika kamu melayang, kamu ingat tidak? ”Tanya Irwan. “Ingat hingga aku tercebur ke air, tetapi ketika aku tenggelam aku tidak ingat lagi.” Jawab Kikin. “ya sudahlah, pokoknya kamu selamat Kin,”kata Alek sambil belai rambut Kikin.
Setelah Kikin sadar kembali, lalu mereka kembali ke tempat memasak. Di sana mereka bercakap-cakap, dan akhirnya mereka terus memasak dengan lauk satu ekor ikan mas yang didapat Atep dari hasil pancingan tadi, ikan peda, lalapan serta sambal. Selang 20 menit, selesailah, mereka makan dan langsung beres-beres untuk pulang.
Selama mereka dalam perjalanan pulang, mereka bercakap-cakap seputar kejadian yang telah dialami. “kalau kita ingat dengan kejadian tadi, aku jadi takut untuk memancing lagi, kata Irwan sambil berjalan menuju kampong Curugtelu. Atep mengomentari ucapan Irwan, “Kamu ini bagaimana? Kalau kita ada keinginan, pasti ada halangan atau rintangan, kita jangan putus asa.” Selama diperjalanan mereka terus ngobrol seputar kejadian, sehingga tidak terasa sudah sampai ke tempat tujuan.
Sesampainya di depan rumah Alek, Kikin, Atep dan Irwan berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing. Ketika itu alek masuk ke dalam rumahnya dan berkata pada teman-temannya,”sampai berjumpa lagi besok teman-teman.” Ketiga temannya menjawab,”ya, mari Lek!” kata ketiga temannya sambil meninggalkan lokasi rumah Alek. Alek mendekati pintu, dan mengucap dulu salam  “Assalamualaikum!” ketika itu tidak ada yang menjawab, mungkin orang tuanya lagi berada di luar rumah. Kemudian Alek membukakan pintu, tapi sayangnya pitu terkunci. Ketika itu ia mengambil kunci di atas kusen jendela. Sepertinya ia tahu, bahwa ketika tidak ada orang di rumah, kunci disimpan di sana. Setelah kuncinya diambil, kemudian alek membuka kuncinya sehingga pitu terbuka. Masuklah Alek ke dalam rumah. Suasana rumah ketika itu hening, yang terdengar hanya kicauan burung di dahan pohon yang ada di seputar rumahnya. Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan badan yang kotor selepas berenang menolong Kikin. Setelah selesai mandi, Alek mengganti pakaian dan mencuci pakaian yang kotor. Alek memang anak yang rajin. Ia sangat bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan, sehingga tidak begitu merepotkan orang tuanya.
Setelah semuanya selesai dikerjakan dengan tuntas, Alek merencanakan untuk mengaji di Madrasah. Ia mempersiapkan segala sesuatunya yang akan digunakan di tempat itu. Ia memakai busana muslim yang biasa digunakan untuk kegiatan itu.
Sekitar pukul 14.50,  Alek keluar dari rumahnya, menuju Madrasah yang tidak begitu jauh jaraknya. Setelah berada di depan rumah, ia membaca doa,” tawakaltu alalllohu walahaula walakuata illa billahil alihil azdim. Kemudian ia melangkahkan kakinya dengan pasti. Alek begitu ikhlas dan semangat dalam mencari ilmu.
Selama perjalanan, Alek menikmati keindahan alam yang ada. Kebetulan ketika itu angin menyapa pohon dan sesuatu yang ada di di depannya. Ia mendesir menerpa Alek  dan pepohonan yang bediri tegak dan melambaikan daun-daunnya. “Allahu Akbar!” kata renungan  yang dilontarkan dari mulut Alek.
Tidak terasa olehnya, sampailah ke tempat tujuan. Di sana sudah ada sejumlah temannya yang sudah menanti sejak tadi. Kemudian mereka berkumpul sambil bercakap-cakap sembari menunggu bel masuk berdenting. Selang beberapa saat, bel masuk berbunyi, teng ... teng ...teng! mereka terperanjat kaget, karena suara bel dekat sekali dengan indra pendengarannya.
Mereka berbaris di depan kelas, dikomando oleh Alek. Alek diangkat Ketua murid oleh teman-temannya yang dipilih melalui pemungutan suara. Sungguh disiplin anak-anak Madrasah Darul Falah. Mereka pandai dalam melakukan tindakan. Segala aturan di lembaga tersebut dilaksanakan dengan baik.

Setelah berada di dalam ruangan kelas, mereka duduk di kursi masing-masing dengan tertib. Selang beberapa detik, guru kelas mereka masuk, “ Assalamualaikum! kata Pak Guru yang bernama Bejo. Ketika itu anak-anak serempak menjawab, “ Waalaikum salam”. Alek langsung memimpin do’a, “Siap, beri hormat!” Anak anak yang lain langsung berdoa serempak dengan keadaan duduk tegap.

Karya : Dadang Suparman, S. Pd



DONGENG LEGENDA LURAH JAYADI

Dina kira-kira taun 1890an, aya hiji lelewek  anu kaayaannana masih keneh mangrupa leuweung. Lelewek  eta ngaranna Curugtelu. Ceunah mah ngaran Curugtelu dijieun ku urang Jawa tengah anu kungsi nyicingan lelewek eta. Ieu  jalma mere ngaran Curugtelu luyu jeung kaayaan tilu curug di wahangan Cipalu. Mun ditempo ti pasir anu pangluhurna bakal katempo tilu curug jero anu endah kacida. Ti saprak harita katelah, lelewek eta ngaranna Curugtelu.
Jaman harita, anu nyicingan lembur curugtelu masih keneh can loba. Malah mah imah anu aya masih keneh cul-cel, dina harti encan loba. Aya hiji jalma anu katelahna Lurah Jayadi, manehna mangrupa jalma anu kawilang dipikaserab ku jalma sejen, kulantaran tindak-tandukna hade ka sasama, pamikirna asok merhatikeun pikeun kamajuan balarea.
Dina waktu harita, pangwangunan oge masih keneh katinggaleun ti wewengkon sejenna. Salah sahijina dina widang pertanian, masih keneh hese ku cai, kulantaran sumber caina nganelkeun tina cai nyusu, sedengkeun cai nyusu mah aya, saupama turun hujan jeung loba tatangkalan.
Dina hiji waktu  Lurah Jayadi mikir, kumaha carana pikeun ngalancarkeun cai kana sawah, balong, jeung lian-lianna deui. Dasar jalma anu rada hade pamikir, bray wae aya ideu anu hade, nyaeta arek nyieun susukan anu caina ti wahangan Cipalu. Ngan dina jero hatena ngagerentas”Ke..ke..ke! Aing ngagunakeun naon yeuh keur ngagali taneuhna?” kitu ceunah. Ngan waktu harita manehna mikir bari leumpang nuju ka hiji tempat anu teu pati jauh ti imahna. Barang anjog ka sisi wahangan anu aya curug, maneha turun, tuluy asup ka jero guha leutik. Eta curug teh disebutna Curug centil, meureunan ngaran eta teh luyu jeung kaayaan batuleutik  anu nyelap diantara dua batu gede. Teuing naon anu dilakukeun di jero guha, ngan teu lila manehna kaluar deui bari leumpang nuju ka jero leuweung.
Saanjogna ka jero leuweung, manehna ngalugas bedog pikeun  mates tangkal anu ngaranna Bingbin anu ukurannana sagede pigeulangan leungeun. Sanggeus beres, tuluy ngagedig deui nuju wahangan Cipalu. Satepina ka sisi wahangan, manehna kunyam-kunyem babacaan, teuing naon anu dibacana, nu katangen leungeunna ngaheumbatkeun tangkal Bingbin kana batu anu aya di dinya. Geduk! brah beulah, Geduk! brah beulah, kitu jeung kitu nepi ka poe harita mah meunang 2 meter mah.
Poe isukna, Lurah Jayadi nuluykeun pagawean pikeun ngawujudkeun susukan tea. Geduk deui manehna ngagali taneuh jeung batu ngagunakeun pakakas tangkal Bingbin bari teu loba omong,  Ikhlas pisan baranggawena. Dina pikirna, masing kudu ngorbankeun jiwa, moal munur sasiku ngejat satunjang beas pikeun ngawujudkeun cita-citana nyaeta nyieun susukan pikeun nyumponan kabutuh jalma-jalma anu aya di lelewek Curugtelu, Cimasri, jeung Cibalieur.
Kira-kira meakeun waktu sataun, ngawujud we susukan atawa irigasi pikeun kamanfaatan tatanenna masyarakat sabudeureun. Loba sawah, balong jeung anu lianna anu ngagunakeun susukan beunang nyieun Lurah Jayadi pikeun kamakmuran rahayat anu aya di sabudeureunnana.
Tah, sakitu sajarah ngawujudna hiji susukan anu aya di kp. Curugtelu, nepi kaayeuna pisan karasa manfaatna ku masyarakat anu hirup di wewengkon eta. Sababaraha lelewek mah tepi ku ngalirna cai meunang nyieun Lurah Jayadi, kayaning Kp. Cimasri, Cibalieur, katut lembur sejenna.

Pikeun masyarakat anu heunteu poho kana sajarah ma,  asok rajeun datang ka tempat anu aya Tugu ciri dijieunna Susukan. Tugu ieu ayana di Kp. Pencut, kaayaan ukurannana mah leutik, tapi bisa dijadikeun bukti pikeun mere sumanget ka masyarakat ngawujudkeun hiji hal gede anu manfaat pikeun balarea.



Karya : Dadang Suparman, S. Pd.
Relawan Pustaka Culamega/ Guru SDN Curugtelu

Jumat, 14 Februari 2014

LAUNCHING TAMAN BACA PUSTAKA CULAMEGA



Sejak pukuk 07.00 pagi halaman basecamp Guru Rantau Culamega yang berlokasi di Kampung Curugtelu Desa Bojongsari Kecamatan Culamega penuh sesak dijejali masyarakat sekitar serta tamu undangan yang terdiri dari aparatur pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, serta alim ulama yang berada di wilayah Culamega dan sekitarnya. Saung bambu serta beberapa kursi bambu yang disediakan oleh panitia tak cukup untuk menampung peserta kegiatan, hal ini membuat sebagian besar dari mereka harus rela duduk berdesakan  lesehan di atas tanah dengan beralaskan tikar.  Wahyu Kamal sebagai salah seorang pentolan Komunitas Guru Rantau Culamega yang bertindak sebagai pembawa acara melaui pengeras suara mewartakan bahwa acara launching TBM Pustaka Culamega  akan segera dimulai dengan ditandai penampilan beberapa kreasi seni oleh anggota TBM Pustaka Culamega. Pada kesempatan ini penampilan musik rebana serta pemutaran video dokumenter semakin menyedot perhatian peserta kegiatan launching TBM Pustaka Culamega. Sebenarnya kelahiran TBM Pustaka Culamega adalah produk lanjutan yang dibidani Komunitas Guru Rantau, setelah lahirnya GR FM sebagai radio komunitas yang mengudara dengan konten-konten acara yang didominasi oleh materi pendidikan.  Hal ini terungkap pada sambutan Dadang Suparman selaku Ketua Komunitas Guru Rantau Culamega yang menjelaskan keberadaan Pustaka Culamega dan GR FM sebagai upaya kelompoknya yang bekerjasama dengan masyarakat sekitar guna menyediakan pendidikan non formasl. Lebih lanjuta Dadang mengatakan bahwa kelahiran TBM Pustaka Culamega adalah salah satu usaha untuk menciptakan masyarakat literat di wilayah Culamega secara khusus, umumnya di Tasikmalaya bagian selatan.  
kegiatan ini diisi juga dengan santunan terhadap yatim piatu bagi anak-anak yang tersebar di Desa Bojongsari. Program hasil kerjasama Komunitas Guru Rantau Culamega dengan UPK Kecamatan Culamega rencananya akan dilakukan secara berkesinambungan. “Santunan ini hanya salahsatu pelecut bagi kita semua, untuk senantiasa peduli terhadap orang-orang sekitar, ini sebagai usaha kami untuk membaca lingkungan” cetus Iwan selaku Ketua UPK Kecamatan Culamega selepas menyerahkan dana santunan secara simbolis kepada beberapa orang anak.

Acara puncak launching TBM Pustaka Culamega diisi dengan kegiatan diskusi pentingnya literasi dengan pemateri Asep Dudung, S.Pd., selaku penilik PNF UPTD Pendidikan Kecamatan Culamega, Agung Ilham Ssetiadi selaku pegiat media Tasikmalaya Selatan, serta Drs. E Mawardi Yazid selaku Camat Culamega. Pada sesi ini, Opik salahseorang pengurus Komunitas Guru Rantau Culamega yang bertugas selaku moderator mencoba menggiring wacana mengenai rencana para pemateri guna membantu tumbuh kembangnya kegiatan literasi di Kecamatan Culamega. Dalam hal ini, Camat Culamega mengatakan siap mengajukan permohonan bantuan buku kepada pihak perpustakaan daerah kabupaten Tasikmalaya, sedangkan pihak penilik PNF menyatakan kesiapannya membantu terbitnya izin operasional. Dalam sesi yang sama Agung Ilham Setiadi selaku pegiat media mendorong seluruh komponen masyarakat untuk membantu berjalannya program pustaka Culamega, selain itu ia mengatakan bahwa ia akan mencoba menghubungi pihak-pihak tertentu guna turunnya bantuan buku. Diakhir sesi diskusi Camat Culamega juga menghimbau masyarakat untuk senantiasa memanfaatkan seluruh potensi yang ada di daerahnya, salah satunya yaitu memanfaatkan pekarangan rumah untuk digunakan lahan bercocok tanam. “Mari kita membaca teks sebagaimana perintah Alloh, SWT., serta membaca potensi lingkungan salah satunya lahan-lahan pekarangan untuk dimanfaatkan sedemikian rupa” Sebelum acara diskusi berakhir salah seorang pemateri yaitu Agung Ilham Setiadi atau yang lebih dikenal dengan panggilan Kang AIS menyedekahkan buku “Antara Lebak Siuh dan Ciusurupan, Mengenang Gubernur Sewaka di Pengungsian” yang telah ia tulis selama 10 tahun kepada Asep Nono selaku ketua pengelola TBM Pustaka Culamega.

Penulis:
Nero Taopik Abdillah

(Relawan Pustaka Culamega, Mengajar di SDN 2 Cikuya Kecamatan Culamega)

Selasa, 04 Februari 2014

PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW & LAUNCHING TBM PUSTAKA CULAMEGA


Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 H, dan Launching Taman Baca Masyarakat (TBM) Pustaka Culamega, Kami berencana melaksanakan serangkaian acara diantaranya :
  1. 1.       Gema Pembacaan Sholawat dan Doa;
  2. 2.       Santunan Anak Yatim / Piatu;
  3. 3.       Kuliah umum dengan tema “Membangun desa melalui kegiatan literasi dan pengembangan ekonomi kreatif” oleh Bapak Camat Culamega, serta pembukaan TBM Pustaka Culamega;
  4. 4.       Tabligh Akbar;
  5. 5.       Gelar music Qasidah.


Insya Alloh acara tersebut akan kami laksanakan pada :
Hari / tanggal                         : Minggu , 09 Pebruari 2014
Waktu                                   : 07.30 WIB s/d Selesai
Tempat                                 : Saung TBM Pustaka Culamega/Studio  GR FM
                                                                 : Kp. Curugtelu Desa Bojongsari Kec. Culamega Kab. Tasikmalaya 

Kamis, 05 Desember 2013

SAJAK SUNDA : DOA BUDAK DI BOJONG SOANG JEUNG RANCA MANYAR (YOUS HAMDAN)


Dibacakeun kuu Muhammad Ridwan (Siswa Kelas V SDN Cibatear)


 
DOA BUDAK DI BOJONGSOANG JEUNG RANCAMANYAR 
 KARYA : YOUS HAMDAN 

 GUSTI, KINTUNKEUN PARAHU NABI NUH ANU TARA KALEBUH GEUSAN ABDI NGAMBAH CAAH ANU CUNDUK UNGGAL USUM CITARUM BABALONGKENGAN KASELEK, CAI NU MUDAL TI SAWAH-SAWAH, TI KULAH-KULAH NU DI ANDIH PARUMAHAN SARENG PABRIK KINTUNKEUN PARAHU NABI NUH, GUSTI ANU TARA KALEBUH TEU SIGA SINTUNG DI CEMBUL APAN, TAYA LAHAN GEUSAN NGALEGAAN CITARUM ANGOT MUN NGAHAGAL CITARUM ANYAR APAN CITARUM SANES JALAN NU TIASA DIBUKA DIMANA-MANA SANAOS KEDAH NGAGUSUR LEMBUR KINTUNKEUN PARAHU NABI NUH, GUSTI BATAN ANJEUN MENDET HUJAN DI LANGIT

Rabu, 27 November 2013

AKSI SDN 2 Cikuya


Oleh: 
Opik, M.Pd (Pembina Aksi/Guru SDN 2 Cikuya)
Reynold Bean seorang ahli pendidikan anak mengungkapkan bahwa kreativitas adalah proses yang mengungkapkan sifat dasar anak lewat produknya yang imajinatif, memperlihatkan sesuatu mengenai siapa dirinya. Dalam hal ini, lahirnya kreativitas pada diri anak tentunya harus dijembatani oleh orang dewasa. Salah satu pihak yang bertanggung jawab terhadap kelahiran demi kelahiran kreativitas anak tertumpu pada pihak sekolah, dengan guru di dalamnya. Oleh sebab itu maka guru harus melakukan kreasi lingkungan yang dapat mengarahkan lahirnya kreativitas anak. Menjembatani anak untuk melahirkan sebuah kreativitas tentunya bukan perkara yang mudah. Perlu seribu satu usaha bahkan lebih untuk terus memicu siswa agar mampu melahirkan kreativitas demi kreativitas. Tentu hal ini tidak hanya bisa dilakukan pada suasana pembelajaran di dalam kelas.

Pemikiran di atas pada perkembangannya membuahkan kegelisahan untuk mencari alternatif ruang-ruang kreativitas bagi siswa di sekolah tempat saya mengajar. Hal ini kemudian mendorong saya sebagai salahseorang guru di SDN 2 Cikuya Kecamatan Culamega Kabupaten Tasikmalaya memutar otak untuk menyediakan fasilitas tersebut. Pada akhirnya terbitlah sebuah ide untuk membuat organisasi ekstakurikuler yang kemudian diberi nama AKSI (Area Kreativitas Siswa) SDN 2 Cikuya. Ide ini kemudian saya gelindingkan pada forum diskusi dengan rekan-rekan guru dan kepala sekolah. Persetujuan pun kemudian saya dapatkan. Rekan-rekan guru dan kepala sekolah memberi dukungan untuk kelahiran AKSI.


Sebagai langkah awal untuk menyalurka kreativitas AKSI, dalam hal ini kemudian dibuatlah sebuah majalah dinding dengan nama Mading Aksi. Majalah dinding pada hakekatnya merupakan miniatur sebuah koran dari segi perwajahan dan isinya. Oleh karena itu melalui bimbingan guru, anggota AKSI berusaha mengemas Mading sedemikian rupa, menyerupai halaman depan koran. Selain untuk menampung kreativitas siswa dalam bentuk tulisan dan gambar, atau kombinasi dari keduanya, pembuatan Mading Aksi ini betujuan untuk meningkatkan minat baca siswa. Setidaknya, untuk edisi pertama, terlihat sebuah gairah dari seluruh anggota AKSI baik untuk mengisi atau pun membaca isi majalah dinding.



Selasa, 26 November 2013

Formulir Karya Tulis

Rabu, 20 November 2013

Acara Musik Motivasi




SAMBUT PAGI DENGAN SEMANGAAAATTTTTTT
Setiap pagi mulai pukul 06.00 di GURU RANTAU RADIO

MELINTASI TASIK SELATAN

Karya : Opik, M.Pd. 

Jika kau melintasi Tasik Selatan
kau akan tahu, jalanan yang kembar dengan sungai
laut tanpa pantai dan pasir sebagai muasal maut
asal kau tahu, siapapun yang melintasi tubir laut
tak perlu membawa telepon genggam
dengan kamera, apalagi bercahaya
sebab angin akan mengugurkan daun ketapang
meniadakan lambai nyiur
mungkin juga kau


2012-2013

KREASI MEMBUAT TOPENG DARI KERTAS KORAN BEKAS

Oleh. Wahyu Kamal, S.Pd. 


Teringat kenangan masa lalu, tatkala masih duduk di bangku sekolah dasar dulu, aku sering menangis karena ditakut-takuti oleh teman yang usianya lebih tua memakai topeng seram dengan muka raksasa...., tetapi seiring berjalannya waktu, rasa takut itu hilang dan timbul rasa penasaran ingin membuat topeng seperti yang yang teman-temanku buat, yaaa pada akhirnya bisa juga membuat topeng meskipun masih jauh dari sempuna. dan setelah itu,yaa jadi deh,  giliran aku yang menakuti adik-adik kelasku sampai menangiss bahkan ada yang sampai ngompolll haha......... terutama anak-anak cewek... haha... 

Sekarang.... aku coba mengajarkan cara membuat topeng itu kepada anak-anak di kelas, karena aku pikir kegiatan membuat topeng ini sangat menyenangkan, dan menginspirasi anak untuk berkarya. tapi sssstttt... pengalamanku dulu itu diRAHASIAKAN, berbahaya kalau mereka tahu dahulu gurunya penakut dan nakal haha.... 

Langsung saja ke TKP 
  1. alat-alat dan bahan
  • Tanah liat (secukupnya) 
  • Kertas Koran (secukupnya)
  • Tepung Tapioka/Aci (secukupnya)
  • Cat Minyak (secukupnya)
  • Kuas 
  • Gunting  
  1. Cara Pembuatan
  •  Bentuklah tanah liat sesuai bentuk wajah yang anda/anak inginkan, baiknya biarkan anak berimajinasi tentang wajah yang paling seram yang bisa ia bayangkan
  • di tempat terpisah  anak-anak yang lain memasak tepung tapioka, sampai mengental dan warnanya menjadi transparan tetapi jangan terlalu kental. lalu biarkan sampai bubur tapioka itu dingin. 
  • Sebagian anak lagi kita tugaskan merobek-robek kertas koran sampai ukuran kira-kira 3x3 cm. 
  • kegiatan selanjutnya, menempelkan sobekan kertas itu ke cetakan wajah menggunakan bubur tapioka sebagai lemnya. usahakan ditempel secara merata sampai ketebalan lebih dari tiga lapis. 
  • tahap selanjutnya adalah menjemurnya sampai kertas bagian luarnya kering dan mengeras sehingga dapat di buka dari cetakannya (penjemuran kira-kira 4 jam dibawah terik matahari)
  • Setelah di buka dari cetakannya, topeng dibalik dan dijemur bagian sisi dalamnya yang masih basah sampai sumua bagian topeng mengeras dan kering. 
  • Potong kertas yang tidak rapi di sepanjang sisi-sisi topeng dan tempel kertas kembali bagian tengah topeng apabila ada kertas yang melekat atau bagian topeng yang terlalu tipis, lalu jemur kembali. 
  • Untuk tahap selanjutnya adalah tahap pengecatan, kemudian dijemur kembali sampai kering.






 Kegiatan selanjutnya adalah menyantap nasi liwet bersama anak-anak. Sungguh kegiatan yang sangat menyenangkan......................

Demikian cara membuat topeng dari kertas koran bekas, semoga bermanfaat 

Jumat, 15 November 2013

Teknik Untuk Memicu Siswa Sekolah Dasar Kelas V Gemar Membaca Buku Pelajaran

Oleh Dadang Suparman, S.Pd. 
1. Pendahuluan
Dalam kegiatan keseharian di sekolah dasar, jarang sekali siswa meluangkan waktu ketika istirahat untuk membaca buku. Padahal, waktu istirahat yang disediakan oleh guru cukup lama, sekitar 30 menit. Hal ini terjadi dikarenakan belum ada teknik pengkondisian (pembiasaan) oleh guru kelasnya, terutama kegiatan membaca buku pelajaran, Koran, majalah dll. Mereka hanya bermain-main dengan teman-temannya. Permainan yang biasa mereka lakukan diantaranya, kejar-kejaran, bercakap-cakap, jajan, dan kegiatan lain yang jauh dari kegiatan membaca buku.
Waktu istirahat 30 menit itu cukup lama, alangkah baiknya jika dimanfaatkan untuk memberi keleluasaan kepada siswa mencurahkan pikiran, perasaan dan kemauannya. Kegiatan bermain bagi siswa merupakan salah satu kegiatan yang dapat mencurahkan segala sesuatu yang ada di benaknya. Kalau diamati, mereka sangat asyik dengan kegiatan yang dilakukannya.
Untuk itu, perlu suatu upaya guru untuk mengkondisikan siswa membagi waktu istirahatnya dengan kegiatan yang dapat mengaktifkan fikiran, perasaan dan kemauannya.
Dengan demikian, teknik untuk memicu siswa gemar membaca buku pelajaran khususnya perlu diupayakan oleh guru.

2. Membaca Simbol Huruf Dengan Kecepatan Membaca 125 kata/menit
Untuk membiasakan siswa gemar dalam membaca buku pelajaran, perlu adanya upaya guru untuk mengkondisikan siswa dalam pemanfaatan waktu istirahat seefektif mungkin. Adapun teknik dalam mengkondisikan siswa membaca buku pelajaran adalah sebagai berikut :
- Sediakan waktu kira-kira 70 detik/siswa
- Sediakan juga teks cerita menarik bagi siswa sebanyak 200 kata dan berilah nomor pada setiap kata
- Pangggil siswa satu per satu ke depan kelas untuk membaca
- Sediakan pengukur kecepatan waktu, stopwatch/jam tangan guru.
- Berilah aba-aba kepada siswa untuk mulai membaca
- Ukurlah kecepatan membaca siswa
- Setelah sampai 1 menit beri komando kepada siswa untuk berhenti membaca teks
- Setelah siswa selesai membaca, lihatlah nomor pada kata yang telah disediakan.
- Tunjukkan kepada siswa, bahwa mereka baru mampu untuk membaca sampai nomor tertentu.
- Berikan motivasi kepada siswa untuk lebih semangat membaca buku, Koran, majalah dll.
Langkah-langkah di atas perlu waktu sekitar 2 jam pelajaran bagi 22 siswa. Untuk jumlah siswa yang jumlahnya berbeda, maka waktunya berbeda pula.

3. Kesimpulan
Motivasi diri, intelegensi guru dapat menciptakan suatu teknik untuk mengkondisikan siswa dalam megefektifkan dan menefesienkan waktu tertentu.  Salah satunya adalah teknik membaca symbol huruf 125 kata/menit dapat  membiasakan siswa untuk gemar membaca buku pelajaran.

Lirik Lagu Sapu Nyere Pegat Simpay


Sapu Nyere Pegat Simpay


Ririungan urang karumpul
Meungpeung deukeut hayu urang sosonoan
Macangkrama bari ngawadul
Urang silih tempas silih aledan

Moal lila jeung babaturan
Hiji wanci anu geus ditangtukeun
Bakal pisah bakal pajauh
Bakal mopohokeun katineung urang

Sapu nyere pegat simpai, bakal kasorang
Takdir ti gusti hyang widi, pasti kalakon
Urang rek papisah, urang rek pajauh
Meungpeung deukut, hayu urang sosonoan



Kamis, 14 November 2013

bubuka


Assalamualaikumm